Kamis, 27 Oktober 2016

Pengadaan Dengan Diam

Bagaimana aku menemukan kata untuk memujamu?
Dengan menyelam ke tempatnya kata-kata bermuara.
Kemudian mengambil satu kata untuk menyeluruhkanmu; Diam.

Diam,
Kata paling puitis bagiku memujamu.
Diam,
Seluruhnya mengenai seluruhmu.
Diam,
Bentuk pemujaan paling sahaja yang pernah ada.
Kebahagian, kecemasan, kedamaian, ketakutan, keangkuhan, kerendahan, kebaikan, kejahatan, bahkan yang tak pernah terkira ada pada diam.

Aku si pemuja,
kau yang dipuja,
tetaplah manusia yang penuh batas.
Menyimpan sayap malaikat dan tanduk iblis yang muncul bergiliran tanpa mengenal kapan.

Alasan memujamu?
Aku ingin mengada karenamu.

Kamis, 30 Juni 2016

Kecemasan Lelaki Pemalu

Izinkan aku sekali saja
Mewujudkan kau sebagai frasa
Walau kau tak akan suka
'Pun tak akan mengerti
Hanya ingin kau abadi
Sebab kecemasan menghantui
Jejakmu menghilang dari padaku
Tahukah kau?
Sukakah kau?
Jangan jawab!
Mengenaimu ingin kunikmati dengan andai
Karena, kenyataan bisa saja kejam padaku
Atau pada kita

Senin, 06 Juni 2016

Pulanglah!

Sebab, kau rindu dengan pulang, sayang. Berjauhan dengan kampung halaman selalu mengenai pulang. Kau terlalu rindu, sayang.

Pulanglah!

Kampung halaman menunggumu dengan keramahannya, sayang. Sudah cukup kau menumpahkan tetesan keringat di kampung orang. Kau terlalu rindu, sayang.

Pulanglah!

Bangunlah kampung halamanmu sendiri. Majukanlah kampung halamanmu. Walaupun tetesan keringat yang kau tumpahkan lebih banyak dibanding kampung orang lain. Tapi, setidaknya itu untuk kampung halamanmu sendiri. Kami terlalu rindu, sayang.

Pulanglah!

Sabtu, 19 Maret 2016

Harus Telinga Kanan

"Aku cinta kamu". Tiga kata klise yang ingin aku bisikkan di telinga kanan kamu. Harus di telinga kanan kamu. Memang terpikir absurd. Bukankah yang absurd itu sangat menarik?

Tiga kata klise tersebut selalu berhasil termanifestasi dalam kehidupan manapun. Walaupun terkadang dilalui secara ironis--mungkin saja berakhir tragis. Tapi, biarlah! Tiap-tiap kehidupan mempunyai alur cerita tersendiri yang patut 'tuk dikenang.

Mengenai keinginan aku, tentang tiga kata klise dan telinga kanan. Aku berdiri di samping kanan kamu. Berada di tengah keramaian. Bisakah kamu membayangkannya?

Saat kamu membayangkannya, jangan lupa pelaminannya, mempelai prianya itu aku, dan kamu sebagai mempelai wanitanya!

Jumat, 18 Maret 2016

Dunia yang mana?

Perkenalan tak terhingga
Tak ada batasan
Nyata dan maya menjadi bias
Inilah modernitas!

Dulu,
Pertemuan mengawali perkenalan
Mata melihat mata
Tanpa ada perantara!

Sekarang,
Perkenalan tanpa pertemuan
Gadget dengan gadget
Dengan perantara!

Di dunia manakah kita hidup?

Kamis, 03 Maret 2016

Suguhan kopimu

Bertamu di rumahmu
Kau menyuguhkan secangkir kopi hitam
"Tanpa gula", katamu sambil tersenyum.

Tanpa pabrik
Murni dari olahan jejemarimu
Yg sudah jadi bubuk
Kemudian kau tuangkan bersama air hangat di dalam cangkir
Maka kepahitan apa lagi yg dirisaukan?

"Kau perlu inspirasi", singgungmu.

Inspirasi selalu hadir dengan secangkir kopi yg kau suguhkan
Tapi, aku selalu enggan memberitahukanmu
Cukup hanya kopi yang ada di cangkir ini yang tahu.

Pekat apa lagi yg kau cari?
Sedang, kopi di cangkir ini telah menyediakan segala kepekatannya
Kopimu selalu menyedialan segalanya.

Setelah tegukan terakhir
"Jangan pernah berhenti membuatkan aku secangkir kopi", pintaku
Segera aku meninggalkanmu dengan kebingunganmu.

Kamis, 23 Juli 2015

Semoga Hujan!



Semoga Hujan! Aku rindu dengan aroma tanah yang basah. Basah karena cairan yang bening dari langit. Lalu aromanya, ketika dihirup, terasa menyegarkan. Dapatkah kau merasakannya? Mungkin saja tidak. Hidungmu telah diperkosa oleh wewangian kimiawi yang tak begitu ramah dengan sekitarnya.

Semoga Hujan! Aku rindu dengan warna tanah yang basah. Basah karena benda cair yang tak mampu lagi ditampung oleh langit. Dan warnanya, ketika dilihat, terasa meneduhkan. Dapatkah kau merasakannya? Mungkin saja tidak. Matamu telah dipasung oleh radiasi sinar elektronik yang tak mampu menyapa sekitarnya.

Semoga Hujan! Ada banyak rindu yang ingin kukikis lewat tangis, seperti erosi gunung oleh banyaknya hujan yang turun. Rindunya begitu sesak, seperti asap knalpot yang bergumul di jalanan membelunggu oksigen.

Semoga Hujan! Ada banyak kenangan yang ingin kubuang di lingkungan yang hijaunya tak bisa kulihat. Kumpulan kenangan yang tampaknya himpunan sampah di laut masih sedikit bila dibandingkan.

Semoga Hujan! Masih ada setitik harapan yang tersisa. Serupa tunas yang baru muncul. Mungkin saja bisa terwujud, mungkin saja bisa tumbuh, mungkin saja… bila hujan segera jatuh!