Jumat, 10 Juli 2015

Tangis



Tangis adalah butiran-butiran air yang keluar dari pelupuk matamu yang mengalir begitu indah seperti sepasang sungai kembar. Tangis adalah kerja pertama yang kau lakukan di dunia, bahkan tangis adalah bahasa pertama yang kau lakukan di dunia. Masihkah kau ingat tentang tangis yang kau lakukan pertama kali?
Tak ada tangis yang selalu berawal dari sedih, tak ada juga tangis yang selalu berawal dari bahagia. Karena, tangis bisa berawal dari sedih maupun bahagia. Tidakkah tangis itu terlihat hebat? Dia bisa berawal dari mana saja.
Matamu memerah, berkaca-kaca, dan tak lama lagi air mata akan membasahi pipimu yang kering. Kau segera berlari keluar, menyambut hujan yang telah berjatuhan ke bumi. Kau bersembunyi, sembunyi di balik hujan, menyembunyikan tangisanmu. Kau memasang senyuman, mencoba menipu kiraku tentang tangismu. Mengapa kau harus menyembunyikan tangismu?
Kau telah tumbuh besar, kau telah dewasa, tapi aku menyangsikan dewasamu. Dewasamu membuat tangisan merupakan laku tabu. Pada apa dewasa membuat tangis adalah laku tabu? Mestinya kau telah tahu bahwa seluruh manusia pasti pernah menangis. Karenanya, jangan malu untuk melihatkan tangismu padaku. Menangislah! Buat aku melihat tangisanmu!
Kau bergumam. Kau berkomunikasi dengan dirimu sendiri. Kau menafikkanku. Ada aku di depanmu. Bicaralah denganku. Ah, kau masih saja menganggapku selembar foto yang tak memiliki rasa. Selembar foto yang memotret tentang lelaki yang begitu kau cintai, namun telah meninggal beberapa tahun silam.

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda