Tangis
Tangis adalah butiran-butiran air yang
keluar dari pelupuk matamu yang mengalir begitu indah seperti sepasang sungai
kembar. Tangis adalah kerja pertama yang kau lakukan di dunia, bahkan tangis
adalah bahasa pertama yang kau lakukan di dunia. Masihkah kau ingat tentang
tangis yang kau lakukan pertama kali?
Tak ada tangis yang selalu berawal dari
sedih, tak ada juga tangis yang selalu berawal dari bahagia. Karena, tangis
bisa berawal dari sedih maupun bahagia. Tidakkah tangis itu terlihat hebat? Dia
bisa berawal dari mana saja.
Matamu memerah, berkaca-kaca, dan tak
lama lagi air mata akan membasahi pipimu yang kering. Kau segera berlari
keluar, menyambut hujan yang telah berjatuhan ke bumi. Kau bersembunyi,
sembunyi di balik hujan, menyembunyikan tangisanmu. Kau memasang senyuman,
mencoba menipu kiraku tentang tangismu. Mengapa kau harus menyembunyikan
tangismu?
Kau telah tumbuh besar, kau telah
dewasa, tapi aku menyangsikan dewasamu. Dewasamu membuat tangisan merupakan
laku tabu. Pada apa dewasa membuat tangis adalah laku tabu? Mestinya kau telah
tahu bahwa seluruh manusia pasti pernah menangis. Karenanya, jangan malu untuk
melihatkan tangismu padaku. Menangislah! Buat aku melihat tangisanmu!
Kau bergumam. Kau berkomunikasi dengan
dirimu sendiri. Kau menafikkanku. Ada aku di depanmu. Bicaralah
denganku. Ah, kau masih saja menganggapku selembar foto yang tak memiliki rasa.
Selembar foto yang memotret tentang lelaki yang begitu kau cintai, namun telah
meninggal beberapa tahun silam.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda