Impian Sederhana si Perempuan
Senin malam, aku kembali duduk di pojok tempat favoritku di warkop favoritku. Hanya saja ada yang berbeda malam ini, seorang perempuan duduk di depanku. Perempuan ini sudah tidak asing, bahkan perempuan ini memang sudah lama kukenal, tapi baru saat ini dia mempunyai waktu untuk menerima ajakanku ke warkop.
Tak perlu waktu lama, kami menunjuk bersamaan "kopi susu" dalam deretan daftar menu yang tersedia. Kamipun tersenyum sejenak gara-gara hal tersebut. Lalu aku berbicara kepada pelayan, "Kopi susunya dua, mbak!".
Beberapa menit kemudian dua gelas kopi susu telah tersuguh di meja kami. Sambil meniup-niup kopi susunya dia membuka pembicaraan, "Ada tidak sesuatu hal yang kau impikan dari dulu?"
Dengan mengernyitkan dahi aku menjawab, "Ada dua. Keliling dunia melihat segala budaya yang ada dan membangun sebuah institusi pendidikan buat anak-anak yang kurang mampu dalam hal ekonomi"
"Impianmu itu memang darimu masih kecil? Atau baru-baru saja muncul?"
"Sejak aku masih kecil."
Heningpun sesaat terjadi, karena kami sama-sama meneguk kopi susu kami. "Kamu tidak mau tanya balik mengenai impianku?", ujarnya dengan ragu.
"Kau apa?"
"Nikah muda."
Aku tersentak kaget dan langsung tertawa sejadi-jadinya, "Bwahahahahahaha..."
"Semenjak masih SMP memang kuimpikan memang itu. Belum kenal cowok, belum tahu babibubebo, kuimpikan memang menikah muda."
"Impian perempuan pada umumnya."
"Hanya saja bukan sekedar yang kuimpikan, tapi momen-momen menjadi istri sekaligus ibu itu yang aku inginkan. Pagi-pagi bangun siapkan sarapan buat suami dan anakku. Setelah sarapan, pergi antar anakku ke sekolahnya. Siangnya aku jemput pulang anakku. Sore, aku membersihkan diri buat sambut suamiku pulang kerja, sekaligus kusiapkan juga air mandinya. Malam kubantu anakku belajar dan atau kerja PR sekolahnya. Dongengkan anakku sebelum tidur, atau dengarkan celotehnya tentang kejadian di sekolahnya hari itu. Berakhir pekan jalan-jalan sekeluarga. Aku tidak mau kerja, tidak mau menjadi wanita karir. Aku takut seperti ibuku sendiri. Entah itu karena trauma atau apalah, tapi aku memang mau menjadi ibu rumah tangga seutuhnya."
"Impian yang sederhana, tapi penuh makna.", ucapku dengan tenang.
Secara tak terduga, air mata mulai menetes dari sudut matanya. Akupun memberikannya tisu untuk menghapus air matanya yang mengalir dengan indah di pipinya yang merah merona. Dia kembali berbicara, "Disatu sisi aku mau menuruti kata hatiku, mau mewujudkan impianku itu, tapi di sisi lain aku sadar tuntutan keluarga. Aku anak sulung, adik-adikku masih kecil semua. Orang tuaku tidak lama lagi pensiun, terutama ayahku yang mulai sakit-sakitan."
Secara spontan aku berkata, "Ada solusi sederhanaku. Kau suruh pacarmu untuk melamarmu secepatnya. Lalu, setelah kau nikah suruh suamimu untuk membukakan sebuah usaha kecil-kecilan, misalnya butik atau apalah."
"Tapi, ada juga kok niatku sedikit kalau aku harus kerja sekarang dan berumah tangga besok-besok. Mungkin diumur 40-an aku minta pensiun supaya masih banyak waktuku buat menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku dalam keadaan masih kuat, belum peyot."
"Cukup sampai selesai kuliahnya saja adikmu kau bekerja"
Dengan menghela nafas yang panjang dia menjawab, "Bah..."
Setelah kata terakhir itu, tak ada lagi pembicaraan yang terjadi. Yang ada hanyalah menikmati hening malam dan menikmati tiap tegukan kopi susu yang masuk ke dalam ruang-ruang kecil tenggorokan.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda